GANGGUAN KONSENTRASI ANAK

 

 

Dr Widodo Judarwanto SpA

Orang tua si buyung sempat kawatir ketika mendapat keluhan dari guru kelas. Saat kegiatan di kelas, si anak yang berusia 5 tahun tersebut tidak bisa diam dan tidak bisa konsentrasi, sering mengganggu temannya dan  sering tidak menyelesaikan pekerjaan menulis dan mewarnai.

Keluhan gangguan konsentrasi tersebut akhirnya sempat dikonsultasikan ke seorang profesional. Ternyata, hasilnya anak dinilai dalam keadaan normal, bukan ADHD. Dikatakan sang profesional memang se usia anak tersebut sedang dalam periode melakukan ekplorasi. Orang tua jadi bingung, mengapa dikatakan normal? Sedangkan teman lain di kelas kok bisa diam dan bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik. Meskipun anak lain yang berperilaku seperti anaknya juga tidak sedikit.

Gangguan konsentrasi termasuk salah satu gejala klnik yang paling banyak dijumpai. Gangguan ini biasanya juga disertai gangguan perilaku lain. Sering dikatakan normal bila tidak disertai gangguan Autis, ADHD dan sejenisnya. Fenomena ini tampak seperti fenomena Gunung Es. Artinya yang tampak dipermukaan tidak banyak, tetapi begitu diamati secara cermat didalam lautan akan tampak sangat banyak dan luas. Ganggguan yang hanya tampak di permukaan dan menjadi kekawatiran para orang tua adalah ADHD, ADD, Austism atau Autis Spectrum Disease lainnnya Tetapi ganggguan perilaku lainnya yang tidak masuk kriteria diagnosis Autis atau ADHD dianggap normal  dan biasa itu ternyata sangat banyak terjadi dan tidak begitu diperhatikan. Gangguan perilaku tersebut seperti gangguan konsentrasi, keterlambatan bicara, gangguan emosi, gangguan tidur, impulsif dan agresif. Akhirnya dengan label normal tersebut ganggguan perilaku tersebut sering diabaikan penanganan oleh para klinisi dan orang tua. Padahal ganggguan perilaku tersebut bila tidak ditangani dengan baik dikemudian hari akan mengakibatkan ganggguan belajar dan mengganggu prestasi di sekolah. Dalam jangka panjang akan mengganggu pencapaian prestasi, gangguan sosialisasi, gangguan komunikasi dan kualitas penampilan sebagai manusia di kemudian hari.

Demikian pula gangguan konsentrasi, gejala yang timbul bisa mulai yang ringan hingga yang berat. Meskipun gangguan tersebut ringan dan tidak disertai gangguan perilaku lain seperti Autis dan ADHD, sebenarnya gangguan tersebut dapat beresiko mengalami gangguan di masa datang.

 

GANGGUAN KONSENTRASI

Gangguan konsentrasi bukan merupakan penyakit tetapi merupakan gejala atau suatu manifestasi penyimpangan perkembangan anak. Gangguan konsentrasi atau inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang, dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Kualitas penampilan gangguan konsentrasi bisa yang ringan hingga berat  Kualitas konsentrasi atau pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi.

Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrem. Misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain, pola ini disebut autis. Kelompok dengan derajat sedang terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja, dan terganggu oleh suatu rangsangan yang mungkin tidak adekuat. Hal ini dinamakan kesulitan perhatian atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kelompok dengan derajat ringan terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu rangsangan lain yang lebih adekuat  Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal perkembangan mental anak secara matang.

Rentang Atensi atau  lamanya waktu yang digunakan anak untuk menekuni suatu kegiatan dapat diamati sesuai usia. Rata-rata rentang atensi  pada usia 2 tahun selama 7 menit,  usia 3 tahun selama 9 menit, usia 4 tahun selama 12 menit, usia 5 tahun selama 14 menit. Kemampuan memusatkan perhatian berbeda-beda. Makin berkembang anak makin mampu menseleksi stimulus yang ada dan makin mampu memusatkan perhatian. Meskipun gangguan konsentrasi ini juga dapat terus terjadi sampai usia dewasa.

Gangguan konsentrasi ini biasanya sudah dapat diamati pada usia bayi. Tampak bayi sering berpindah-pindah perhatian pandangan matanya atau sering berganti mainan dalam waktu yang cepat. Biasaanya bayi tidak menyukai lingkungan suasana yang tidak luas seperti boks bayi yang kecil dan suasana di dalam kamar. Anak lebih menyukai lingkungan yang lebih lapang seperti tempat tidur yang luas dan anak sering minta keluar rumah. Pada anak yang lebih besar didapatkan gejala cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas, tidak bisa belajar lama. Bila belajar harus dalam keadaan tenang atau biasanya saat tengah malam. Sebaliknya biasanya bisa bertahan lama  pada hal yang disukai seperti menonton televisi, baca komik atau main game.  Anak tampak sering terburu-buru sehingga mengakibatkan perilaku tidak mau antri, Tidak teliti sehingga terjadi kesalahan dalam mengerjakan soal karena ketidak telitiannya. Sering kehilangan barang atau sering lupa. Nilai pelajaran naik turun drastis, nilai pelajaran tertentu baik tapi pelajaran lain buruk. Sulit menyelesaikan pelajaran sekolah dengan baik. Sering mengobrol dan mengganggu teman saat pelajaran karena sering tidak bisa mengikiuti pelajaran dengan baik. Meskipun pada umumnya penderita ganguan konsentrasi mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi.

Penyebab kesulitan konsentrasi masih belum terungkap secara jelas, karena banyak faktor yang mungkin dapat mempengaruhi. Gangguan neurologi atau Malfungsi organik otak berperanan sebagai penyebab. Gangguan neurofungsional tersebut adalah gangguan persepsi diantaranya adalah tidak bisa membedakan “figure” dan “latar belakang”,  tidak mampu mengolah makna apa yang didengar atau dilihat sehingga anak tidak berminat,  tidak memahami urutan perintah (minimun 3 perintah). Beberapa peneliti mengungkapkan faktor genetik ikut berpengaruh. 

 

MANIFESTASI LAIN YANG MENYERTAI

Gangguan konsentrasi pada anak sering disertai gangguan lainnya seperti peningkatan gangguan emosi, agresif, gejala gerakan motorik berlebihan, hiperaktif dan gejala impulsif. Peningkatan gangguan emosi berupa mudah marah dan meledak emosinya. Bila marah sering membanting barang, melempar atau berguling-guling di lantai atau tantrum. Sulit bekerjasama, suka menentang, keras kepala dan tidak menurut, Kadang suka menyakiti diri sendiri  seperti menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll.

Gejala gerakan motorik berlebihan dan hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Aktifitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan yang ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun pada saat dimana dia seharusnya duduk degan tenang. Perilaku lain meliputi perasaan yang meletup-letup, aktifitas yang berlebihan, suka membuat keributan, membangkang dan destruktif yang menetap. Gejala lain yang sering menyertai pada usia bayi adalah tangan dan kaki bergerak twrus tidak bisa diam sehingga tidak mau dibedong atau diselimuti. Bayi sangat sensitif  terhadap suara dan cahaya, menangis, menjerit, sulit untuk diam, tidak bisa ditenangkan atau digendong, menolak untuk disayang, Head banging atau membenturkan kepala, memukul kepala, menjatuhkan kepala kebelakang. Sering marah berlebihan dan tidak sabaran bila mau minum susu.

Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Keluhan lain pada anak besar adalah anak tampak clumsy (canggung), impulsif, sering mengalami kecelakaan atau jatuh,  perilaku aneh/berubah-ubah yang mengganggu, gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak lainnya., Pada anak yang lebih besar adalah tindakan yang hanya terfokus pada satu hal saja dan cenderung bertindak ceroboh, mudah bingung, lupa pelajaran sekolah dan tugas di rumah, kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah, kesulitan dalam menyimak,  kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, sering keceplosan bicara, tidak sabaran, gaduh dan bicara berbelit-belit, gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru, banyak omong dan suka membuat keributan, dan suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan orang lain

Gangguan konsentrasi yang tidak ringan bila disertai dengan gangguan perilaku lain seperti ADHD, Autis, gangguan bipolar, gangguan konduksi, depresi, gangguan disosiatif, gangguan kecemasan, gangguan belajar, gangguan mood, gangguan panic, obsesif-kompulsif, gangguan panik disertai goraphobia. Juga kelainan perilaku lainnnya seperti gangguan perkembangan perfasif  termasuk gangguan Asperger, Posttraumatic stress disorder (PTSD), psikotik, fobi sosial, keterlambatan bicara, ganggguan tidur, sindrom Tourette dan ticks.

Gangguan konsentrasi juga sering terjadi pada penderita alergi. Gejala alergi yang sering dikaitkan dengan gangguan ini adalah asma, dematitis atopik (gangguan kulit), gangguan saluran cerna. Gejala yang  menunjukkan adanya gangguan pencernaan adalah gangguan berulang seperti perut, kembung, sering buang angin, mual, muntah, mulut berbau, nyeri perut bersifat  hilang timbul. Sulit buang air besar, kotoran tinja berbau, berwarna hitam, hijau, keras, bulat seperti kotoran kambing. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau. Gangguan kulit berupa bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya dan sebagainya.

 

PENANGANAN KHUSUS

Melihat manifestasi gangguan konsentrasi yang sangat banyak maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan penyebab dan gangguan lain yang menyertai. Terapi yang diterapkan terhadap penderita gangguan konsentrasi haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama.  Bila gangguan tersebut tidak ringan penanganan ideal harus dilakukan terapi stimulasi dan terapi perilaku secara terpadu guna menjamin keberhasilan terapi.  

Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam penanganan penderita gangguan konsentrasi. Diantaranya adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan  pencernaan (Intestinal Permeability or “Leaky Gut Syndrome”), penanganan  alergi makanan atau reaksi simpang makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif.  Penulis telah mengadakan penelitian terhadap penderita gangguan konsentrasi pada anak. Setelah dilakukan eliminasi penyebab gangguan alergi makanan selama 3 minggu ternyata didapatkan hasil peningkatan kemampuan konsentrasi anak.

Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-cobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada beberapa kasus gangguan konsentrasi pada penderita ADHD. Kemampuan L-Tyrosine mampu mensitesa (memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter) yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan menggunakan golongan amphetamine. Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi mineral,  essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam amino  dan toksisitas Logam berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed back, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional  Cina seperti akupuntur. 

Untuk mengatasi gejala gangguan perilaku yang menyertai pada  penderita gangguan konsentrasi dapat dilakukan dengan terapi okupasi. Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan konsentrasi dan gangguan perilaku  yang menyertai pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory Integration (Ayres), snoezelen, neurodevelopment Treatment (Bobath), modifukasi Perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya 

Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan pada perunahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agresif, emosi labil, self injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.

 

PENANGANAN UMUM ORANG TUA DAN GURU SEKOLAH

Penanganan di rumah dan sekolah, sebaiknya orang tua atau guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Perilaku anak tersebut timbul bukan karena sifat nakal, tetapi kita harus sadar bahwa anak tersebut mempunyai gangguan dalam mengendalikan gejolak yang meledak ledak baik ucapan, perilaku dan gerakan motoriknya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari orang tua dan guru dengan gangguan konsentrasi

Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan aturan dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata  ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Semakin sering melarang biasanya semakin kuat si anak melawan atau bertentangan. Sangat penting untuk mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini. Dengan begitu dapat memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya. Anak dengan gangguan konsentrasi kadang disertai susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Kerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya.

Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.

Teknik-teknik pengelolaan dan pendekatan perilaku yang positif bisa digunakan dalam pendekatan dengan anak gangguan konsentrasi. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Anak harus diberikan disiplin yang konsisten, dan terus menerus dalam kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur pagi hingga akan tidur malam. Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda harus dalam keadaan stabil. Seringkali terjadi dengan semakin keras emosi kita timbul, semakin keras anak akan menentang. Anak dengan gangguan konsentrasi sebagian besar sangat sensitif dan emposinya cebderung meledak. Sebaliknya anak akan cenderung lebih menurut, bila dalam membimbing atau melarang tindakan anak yang menyimpang dengan lemah lembut dan memberikan pengertian tentang kenapa larangan ini diberikan.

PENUTUP

Gangguan konsentrasi  merupakan salah satu gejala yang menyertai berbagai gangguan perilaku. Kualitas gangguan ini bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat seperti pada penderita Autis dan ADHD. Gangguan konsentrasi yang ringan sering dianggap normal dan diabaikan, meskipun  dapat mengakibatkan gangguan prestasi di sekolah dan kualitas hidup di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. APA: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association Press; 1994: 78-85.
  2. Brown TE: Brown ADD Scales. San Antonio, TX: Psychological Corp; 1996: 5-6.
  3. Elia J, Ambrosini PJ, Rapoport JL: Treatment of attention-deficit-hyperactivity disorder. N Engl J Med 1999 Mar 11; 340(10): 780-8
  4. Hunt RD, Paguin A, Payton K: An update on assessment and treatment of complex attention-deficit hyperactivity disorder. Pediatr Ann 2001 Mar; 30(3): 162-72.
  5. Wilens TE: Straight Talk about Psychiatric Medications for Kids. New York, NY: Guilford Press; 2002.
  6. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR). 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 2000. 78-85.
  7. Levinson, Harold N., M.D. 1990. Total Concentration: How to Understand Attention Deficit Disorders with Treatment Guidelines for You and Your Doctor. New York: M. Evans and Co., Inc.
  8. Biederman J, Faraone SV, Milberger S: Is childhood oppositional defiant disorder a precursor to adolescent conduct disorder? Findings from a four-year follow-up study of children with ADHD. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1996 Sep; 35(9): 1193-204
  9. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA: Kaplan and Sadock’s Synposis of Psychiatry. 7th ed. Baltimore, Md: Williams & Wilkins; 1994: 1063-8.
  10. Daruna JH, Dalton R, Forman MA. Attention deficit hyperactifity disorder. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson textbook of pediatrics. 16th ed. WB Saunders Co. USA. 2000;29.2:100-3.
  11. Laufer MW. Brain disorder. Ed. Freedman AM, Kaplan HI. Dalam: Comprehensive textbook of psychiatry. The Williams and Wilkins Co. Maryland, USA.1973;42:1142-52.
  12. IMH. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. NIMH Public Inquiries Bethesda, U.S.A  dapat dilihat di: http://www.nimh.nih.gov/publicat/ adhd.cfm diakses pada: 27 April 2003.
  13. American academy of pediatrics. Clinical Practice Guideline: Treatment of the School-Aged Child With Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Pediatrics Vol. 108 No. 4. USA. 2001;1033-44

 

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

                                                                                                            

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s